Per[t]empu[r]an: takdir

19 06 2008

Perempuan, nalar kelakianku terkadang tak mampu menafsirkan seperti apa hatimu. Aku bingung bermain lakon bersama mu. Kadang aku berpikir, bagaimana seharusnya aku memandangmu. Engkau hadir sebagai sebagian jiwa yang hilang. Datang dari kesendirian yang menawarkan berjuta ketenangan dan ketentraman hidup. Hatimu begitu lembut dan lebih banyak bergelut dengan yang namanya rasa dibanding nalar.

Engkau tercipta dengan ‘istimewa’ dan memancarkan keindahan serapuh kelopak bunga. Itu yang ku ketahui dari indahnya pelangi sore itu di kaki bukit saat pertama ku mengenalmu. Lembut, kesan pertama yang ku tangkap; tak sepertiku.

“Apakah kau mau jadi temanku?” Baca entri selengkapnya »





Sepi: My Beloved

12 05 2008

Menangis sendiri sungguh sangat menyedihkan
tapi akan lebih menyakitkan jika tak dapat merasakan bagaimana nikmatnya menangis…

ternyata sepi,
masih setia menungguku pulang padanya…
bahkan ia tak segan-segan memelukku dan berucap manis padaku,
seolah-olah ia tak pernah mengungkit masa lalu ketika aku meninggalkannya

Ia memang bisu, tak bisa berkata-kata manis..
tapi hatinya mampu menggetarkan isyarat bahwa ia sedang menantiku

aku menangis dipelukannya, dan ia menyeka air mataku seketika dan berkata,
“janganlah menangis lagi karena aku tak sanggup menatapnya, tersenyumlah karena itu membuatmu terlihat tampan..”

aku tersenyum malu dan hanya bisa mengucap
terima kasih





Sekarang hanya sepi

2 01 2008

Sepi sama saja ‘mati’

                     Mati berarti ‘sepi’ ; sendiri

                             Sekarang hanya ada ‘sepi’ & ‘mati’

Sendiri…iya cuma sendiri





Aku; Segera Mati

2 01 2008

Januari di usia 21; tahun lalu

Untuk seorang sahabat,
yang pernah menangis untuk ku dalam setiap angan dan mimpinya…

“Maafkan aku! Aku akan segera mati”

Itu yang ku tangkap dari angin senja yang berhembus hari ini
Aroma getir kematian membuat urat nadiku berhenti berdenyut; sesaat
Mampu menghilangkan nafasku yang sisa separuh di paru
Membuat tubuhku menggigil di sela-sela pijar mentari
Membuat lidah tak lagi mampu berucap indah
Apalagi untuk bertutur maaf padamu

Baca entri selengkapnya »





Aku, Sepi yang menemani

28 12 2007

Aku terlahir sebagai yang didahulukan. Dibesarkan oleh kemurungan, kesendirian, dan kesunyian. Aku ditempa oleh kerasnya hidup. Diajari bahasa hutan dan kicauan burung. Merangkak bersama angin dan tidur di pembaringan malam. Ayahku adalah langit yang menaungiku tanpa banyak berkata. Ibuku adalah bumi yang mengajariku banyak hal tentang kehidupan. Saudaraku adalah sisi lain dari hidupku yang penuh tawa dan canda. Dan aku mewarisi sifat keduanya.
Dalam sebuah penciptaan, aku terpilih sebagai seorang pemenang yang memenangkan hati-Nya. Melebur lalu luruh padu pada rahim bumi. Tangan-tangan Gaib membuat banyak keajaiban yang menuntunku sebagai lelaki. Pelajaran pertama tentang hidup kudapat dari sentuhan karya-Nya. Tumbuh dan terus tumbuh hingga saatnya tiba untuk ku berdiri sendiri. Keberadaan ku ditandai dengan tangisanku, disebuah gubuk sederhana di rimbunan pepohonan.

« S’lamat pagi, Fajar !

Baca entri selengkapnya »