Ijinkan Aku Mengenalmu

22 06 2008

Dia: bagian rusuk kiriku yang patah: Tercipta dalam kelembutan namun begitu kokoh: Hadirmu melengkapi kehidupan ini: Meski terkadang hatimu yang lembut tercabik olehku: Namun slalu ada maaf dan senyum untuk ku; Lelaki

kupuAku mengenalmu layaknya rentang hidup sang kupu-kupu.Tak sampai sewindu hidupnya, ia tlah mati dengan membawa madu bersamanya. Aku ingin mengenalmu ibarat kumbang pada bunga, yang mengenalnya bukan pada yang tampak. Tapi apa yang ada didalamnya. Aku bermimpi lebih jauh mengenalmu. Sejauh bintang-bintang yang bertabur pada malam,yang terlihat dekat karna kilaunya. Namun kusadar ia begitu jauh tuk terjangkau.

Kini aku terlanjur sulit mengenalmu. Serumit aksara para ilmuwan tuk di pahami oleh nalar yang tak mampu memecahkan sandinya. Dan aku sadar bahwa aku cukup mengenalmu dari setiap analisis semuku akan setiap kosakata yang senantiasa bersembunyi di balik senyum dan sukamu. Sejak saat itu aku… Baca entri selengkapnya »





17:48

19 06 2008

17.48 sore hari itu…

“aku berhenti mengenalmu dengan caraku; perempuan. Kunci kata telah kubuang di depan  mu entah kemana. pertanda ego ku tidurkan…

Satu hal yang ku pahami bahwa selama ini aku hanya mengenalmu dengan caraku yang egoistik tanpa jiwa.Ku belajar darimu bagaimana engkau mengenalku. Satu yang ku harap aku bisa terus mengenalmu hingga waktu tak cukup untuk membuatku berhenti mengenalmu…”





HAI, KAMU !

30 04 2008

Oleh :
W.S. Rendra

Luka-luka di dalam lembaga,
intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,
noda di dalam pergaulan antar manusia,
duduk di dalam kemacetan angan-angan.
Aku berontak dengan memandang cakrawala.

Jari-jari waktu menggamitku.
Aku menyimak kepada arus kali.
Lagu margasatwa agak mereda.
Indahnya ketenangan turun ke hatiku.
Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.

Jakarta, 29 Pebruari 1978 I Potret Pembangunan dalam Puisi