Dia: Diam

22 06 2008

diam

Dia yang terdiam, hanya aku yang tahu kapan harus berakhir. Entah apa yang ingin ku sangkal antara “cinta” dan persahabatan. Dia yang terdiam, kemarin sempat tersenyum pada malam. Sebuah senyum yang penuh ketulusan nan lembut; hangat selayak senja yang bersahaja di kala petang.

Dia yang terdiam, membuat ku semakin paham akan dirinya. Sebuah hati yang terbentuk sangat indah oleh setiap penjelmaan kebaikan hidup. Dia yang terdiam; dalamnya tak terselam yang membuatku semakin tenggelam di dasar yang terdalam. Baca entri selengkapnya »

Iklan