Akut..

27 06 2008

Bingung, mungkin itu kata yang paling tepat saat ini yang mencitrakan kondisi ku sekarang…

Bukan bingung soal skripsi yang ga kelar-kelar atau pun uang spp semester depan belum ada. tapi aku bingung setelah amanah di kampus rakjat ini berakhir, terus aku harus melangkah kemana lagi? apalagi jika harus bermental idealis untuk berprofesi di bidangnya, mungkin 1001 batu loncatan dahulu baru bisa menapaki jalan yang diingini dengan nyaman. Aku telah jatuh cinta dengan aroma basah embun pagi yang menyeka kantuk ku di sejuknya udara segar di alam liar. Aku juga tak bisa berpaling dari suara riuh rendahnya aluna gita burung-burung di balik semak dan dedaunan. Lantas, kemana aku meski mencari mereka yang kini ku tak tahu rimbanya. Itu ku rasakan 20 tahun silam, dan kini cinta itu masih ku benamkan dalam-dalam di palung hati, bahwa suatu saat aku akan meminangnya menjadi bagian dari hidupku..

Aku bingung… Baca entri selengkapnya »





Ijinkan Aku Mengenalmu

22 06 2008

Dia: bagian rusuk kiriku yang patah: Tercipta dalam kelembutan namun begitu kokoh: Hadirmu melengkapi kehidupan ini: Meski terkadang hatimu yang lembut tercabik olehku: Namun slalu ada maaf dan senyum untuk ku; Lelaki

kupuAku mengenalmu layaknya rentang hidup sang kupu-kupu.Tak sampai sewindu hidupnya, ia tlah mati dengan membawa madu bersamanya. Aku ingin mengenalmu ibarat kumbang pada bunga, yang mengenalnya bukan pada yang tampak. Tapi apa yang ada didalamnya. Aku bermimpi lebih jauh mengenalmu. Sejauh bintang-bintang yang bertabur pada malam,yang terlihat dekat karna kilaunya. Namun kusadar ia begitu jauh tuk terjangkau.

Kini aku terlanjur sulit mengenalmu. Serumit aksara para ilmuwan tuk di pahami oleh nalar yang tak mampu memecahkan sandinya. Dan aku sadar bahwa aku cukup mengenalmu dari setiap analisis semuku akan setiap kosakata yang senantiasa bersembunyi di balik senyum dan sukamu. Sejak saat itu aku… Baca entri selengkapnya »





17:48

19 06 2008

17.48 sore hari itu…

“aku berhenti mengenalmu dengan caraku; perempuan. Kunci kata telah kubuang di depan  mu entah kemana. pertanda ego ku tidurkan…

Satu hal yang ku pahami bahwa selama ini aku hanya mengenalmu dengan caraku yang egoistik tanpa jiwa.Ku belajar darimu bagaimana engkau mengenalku. Satu yang ku harap aku bisa terus mengenalmu hingga waktu tak cukup untuk membuatku berhenti mengenalmu…”





Per[t]empu[r]an: takdir

19 06 2008

Perempuan, nalar kelakianku terkadang tak mampu menafsirkan seperti apa hatimu. Aku bingung bermain lakon bersama mu. Kadang aku berpikir, bagaimana seharusnya aku memandangmu. Engkau hadir sebagai sebagian jiwa yang hilang. Datang dari kesendirian yang menawarkan berjuta ketenangan dan ketentraman hidup. Hatimu begitu lembut dan lebih banyak bergelut dengan yang namanya rasa dibanding nalar.

Engkau tercipta dengan ‘istimewa’ dan memancarkan keindahan serapuh kelopak bunga. Itu yang ku ketahui dari indahnya pelangi sore itu di kaki bukit saat pertama ku mengenalmu. Lembut, kesan pertama yang ku tangkap; tak sepertiku.

“Apakah kau mau jadi temanku?” Baca entri selengkapnya »





Dialog Kamoe & Akoe: Lelaki

9 06 2008

06.31 am I Februari di usianya yang belia

Dimana hari tak pernah sama dan tak pernah terulang

Wa’alaikumsalam, perempuan

Hati yang s’lalu bisa membuatku tersenyum ketika aku bangun dari tidurku. Doa ku, semoga kita masih mampu selangkah lagi berjalan menuju puncak mimpi yang telah kita bangun…

“Terima kasih atas cerita mu, hari ini…”

Entah apa yang harus aku katakan lagi. Kata-kata yang ku punya tak lagi mampu menjawab setiap pertanyaan dalam surat itu. Kini aku menyadari satu hal, bahwa s’lama ini aku melupakan seorang teman yang selalu berdoa untukku. Aku terlalu egois jika memandangmu tak menjadi lebih baik. Kau jauh lebih baik. Lebih dari apa yang aku inginkan, mungkin aku saja yang sulit untuk menerima perubahan itu.

Perempuan…,

Pengaturan ini tak pernah aku tahu sebelumnya dan sama halnya dengan mu aku juga terkadang ragu ”apakah aku bisa menjadi lebih baik untuk mu dan semua orang yang ada disisiku” !!

Baca entri selengkapnya »





Sepi: My Beloved

12 05 2008

Menangis sendiri sungguh sangat menyedihkan
tapi akan lebih menyakitkan jika tak dapat merasakan bagaimana nikmatnya menangis…

ternyata sepi,
masih setia menungguku pulang padanya…
bahkan ia tak segan-segan memelukku dan berucap manis padaku,
seolah-olah ia tak pernah mengungkit masa lalu ketika aku meninggalkannya

Ia memang bisu, tak bisa berkata-kata manis..
tapi hatinya mampu menggetarkan isyarat bahwa ia sedang menantiku

aku menangis dipelukannya, dan ia menyeka air mataku seketika dan berkata,
“janganlah menangis lagi karena aku tak sanggup menatapnya, tersenyumlah karena itu membuatmu terlihat tampan..”

aku tersenyum malu dan hanya bisa mengucap
terima kasih





AKU

30 04 2008

Oleh :
Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu-sedan itu
Aku ini binatang jalan
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Pembangoenan,
No. 1, Th. I
10 Desember 1945