Aku; Sebuah Potret

Aku;

Terlahir dengan nama lengkap Feri Irawan Razali atau aku lebih suka dipanggil fei, yang dalam bahasa mandarin berarti “terbang”. Entah kenapa kedua orang tuaku menamai aku seperti itu. Bilasaja saat itu bibir ini di ijinkan untuk berbicara, maka aku akan menolak nama itu. Aku sungguh tidak menyukainya. Hingga saat ini pun aku masih tak tahu apa arti dari nama itu. Keseharian di rumah, aku biasa dipanggil “abang” oleh anggota keluargaku, yang menunjukan statusku sebagai anak tertua yang kelak akan menjadi tulang punggung bagi keluarga. Berbeda dengan dikeluarga besar ibuku, oleh nenek ku, pengasuh sekaligus orang yang paling berperan dalam membesarkanku, aku dipanggil “ie” (baca: ik). Dalam beberapa karya tulisku, aku lebih menyukai nama “ayyasy” atau “galig” sebagai nama penaku. Nama “ayyasy” adalah nama seorang pejuang Palestina yang Syahid membela agama-Nya, sedangkan “galig atau galigongli” adalah nama seorang bocah yang hidup penuh dengan ujian dan sangat tidak beruntung, karena ia sendiri tidak tahu siapa bapaknya. Galig adalah cerminan sebagian besar anak di negeri ini yang para pemimpinnya menderita sakit yang akut, lebih-lebih rakjatnya.

Keluarga;

Kedua orang tua ku adalah pengabdi Ibu Pertiwi, yang gajinya tak seberapa. Ayahanda ku adalah seorang karyawan di sebuah perusahan negara, yang selalu patuh dan bekerja tanpa pamrih. Beliau termasuk orang yang pendiam layaknya langit biru yang menyejukan mata yang memandang. Ibunda ku adalah seorang Umi Bakrie, yang berkerja sebagai pengajar di level sekolah dasar. Beliau bagiku begitu “cerewet” namun tetap menghangatkan bak bumi yang selalu memberikan kehidupan bagi yang berpijak di atasnya. Aku punya dua adik, keduanya adalah kembang melati yang harum semerbak wewangian di pemandian bidadari. Kenapa ku berkata begitu, karena mereka lah yang membuat suasana rumah kami selalu ceria, riang, penuh tawa, dan juga bahagia. Mereka mewarisi gen yang sebaliknya dengan ku. Di dalam nadiku mengalir darah keturunan masyarakat adat dayak- taman, Melayu-sambas, dan Bugis-pare-pare. Meskipun aku telah hidup selama 22 tahun, aku masih belum bisa menemukan silsilah keluargaku secara utuh. Aku lebih banyak mengenal dan dibesarkan di lingkungan keluarga besar Ibu ku, sedangkan keluarga Ayah, Aku kurang mengenalnya begitu baik.

Masa kecil

Banyak yang bilang aku ini keturunan masyarakat Tiong Hoa, karena warna kulit yang putih, mata sipit, dan raut wajah yang membingungkan setiap orang yang baru pertama kali bertemu. Aku tak menrefleksikan tanah kelahiranku. Tapi mungkin anggapan itu ada benarnya. Masa kecilku ku habiskan di lingkungan Tiong Hoa, di pedalaman Kalimantan. Jarak rumahku dari perkampungan sekitar 0,5 km. Sekolahku berada di atas bukit dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam jika berjalan kaki, tapi aku bisa menempuh waktu yang lebih singkat dengan sepeda ku, cukup 30 menit. Televisi masih menjadi barang mewah saat itu, dan baru bisa nonton menjelang maghrib ataupun kalau hari minggu. Aliran listrik baru ada mulai pukul ½ 5 sore hingga menjelang subuh, kecuali hari minggu. Aku tumbuh menjadi anak yang apatis terhadap keramaian. Sejak kecil aku seringkali terlibat perhelatan dengan jiwaku yang lain ketika aku bermain, berbicara, terdiam, memancing, menyelusuri hutan, mendaki bukit, maupun menyeberangi sungai. Semuanya ku lakukan sendiri, sehingga sepi dan imaji merupakan sahabat terbaikku sejak dulu. Akhirnya aku pun harus berpisah dengan mereka, ketika Ayahku dipindah-tugaskan ke Kabupaten. Di situlah aku mengenal banyak hal, termasuk aku dimasukan ke Sekolah Madrasyah, sekolah yang hampir semua mata pelajarannya tidak ku mengerti sama sekali, salah satunya Bahasa Arab.

Masa Peralihan

Kata orang, masa puber adalah masa yang paling riskan terhadap segala keingintahuan yang tak terbendung, apalagi saat itu pengaruh media begitu kental di masyarakat kabupaten di hulu sungai terpanjang di Kalimantan, Kapuas. Saat itu, sama sekali Aku tidak menyukai karya sastra, seni musik, dan hal-hal yang berbau seni, tapi aku suka mendengarkan lagu-lagu jadul tahun 80an, begitu lugas, jelas, padat dan tidak terkesan terlalu bermetafor. Sangat sederhana dan bersahaja. Aku tumbuh menjadi remaja seperti layaknya kebanyakan, penuh semangat keingintahuan. Dahulunya aku yang seorang apatis terhadap sosial, saat itu seolah-olah berbalik 180 derajat. Aku dikenal dikalangan guru, teman sebaya, adik kelas hingga orang sekampung. Aku sendiri tidak menyadarinya, mungkin bayang-bayang nama baik kakek ku turut andil dalam itu. Akhirnya, seakan menelan air ludah sendiri aku pun memutuskan untuk berkenalan dengan dunia sastra, tepat 2 bulan menjelang ujian akhir nasional. Karena ada “Hati” yang menggerakkan dan aku punya penggemar setia karya-karyaku, yang ku anggap konyol saat ini.

Masa Kini dan nanti kita lihat saja nanti. Let it’s flow like a river…

4 responses

3 08 2008
yashe

oi jeng… salam dulu aah…hee, maaph telat..Assalamu’alaikum…
sewcawraw… pengenalan diri lewat tulisannya bagus, cm ada satu niy yg agak2 gelitik…. “nama”
nama jeng kan bagus, Feri Irawan… waaahhh buktinya banyak orang yang pake nama itu, berarti nama itu nama yang bagus kan.. ^^
lepas dari suka ato engga, setidaknya ada nada syukur dengan apa yang udah diberikan pada kita kan… walopun maknanya ga “sehebat” apa yang kita “pahami”, tapi ortu ita pasti lebih memaknai kehadiran bayinya lebih dari makna2 apa aja yang ada di dunia ini, y tho….dadi… kita patut memberikan penghargaan yang tinggiiiiii bangeth, buat ke2 orang yang udah (pasti) memaknai kehadiran kita lebih…bih..bih.. okay bang?! 😉

10 09 2008
azkaa,,

apdet dunk apdet.. hheu.. ^^

jadi ke indonesia timurnya ga mas?

13 03 2009
honeybee

assalamu’alaikum bang… kalo boleh nebak neh… bang ayyash ini tipe-tipe anak Mapala gitu (anak mapala kan rata-rata suka potograper. trus mirip anak mushola dikit. trus suka baksos, betul… betul… betul… eh afwan… nggak suka becanda ya…

11 02 2011
Henny

Lam kenal, keren euy blognya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: