Dia: Diam

22 06 2008

diam

Dia yang terdiam, hanya aku yang tahu kapan harus berakhir. Entah apa yang ingin ku sangkal antara “cinta” dan persahabatan. Dia yang terdiam, kemarin sempat tersenyum pada malam. Sebuah senyum yang penuh ketulusan nan lembut; hangat selayak senja yang bersahaja di kala petang.

Dia yang terdiam, membuat ku semakin paham akan dirinya. Sebuah hati yang terbentuk sangat indah oleh setiap penjelmaan kebaikan hidup. Dia yang terdiam; dalamnya tak terselam yang membuatku semakin tenggelam di dasar yang terdalam.

Dia yang terdiam, boleh ku bertanya apa yang kau lihat dari mata ini, apa yang kau baca dari guratan ini. Aku hanya… hanya…sudahlah itu derita ku.

Dia yang terdiam, ku berangan kian jauh lampaui batasku yang tanpa sadar akan kenistaan diri. Memang sungguh tak pantas sang hitam bercengkram pada putih. Dia yang  masih terdiam. Harap baik yang sempat terlintas, kau memperoleh yang terbaik dari hidupmu. Menuntunmu tuk gapai kebahagian yang ajaib.

“Semoga…Hanya itu doa ku!”

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: