Chairil Anwar Dalam Potret

12 05 2008

Biografi singkat tentang Chairil Anwar Chairil Anwar (Medan, 26 Juli 1922 — Jakarta, 28 April 1949) atau dikenal sebagai “Si Binatang Jalang” (dalam karyanya berjudul Aku [1]) adalah penyair terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan ’45 dan puisi modern Indonesia.

Masa Kecil
Dilahirkan di Medan, Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya bernama Toeloes, yang bekerja sebagai pamongpraja. Dari pihak ibunya, Saleha dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. [1]

Chairil masuk Hollands Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu penjajah Belanda. [2] Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah menengah pertama belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.[3]

Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastera. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.

Masa Dewasa
Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di “Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian.[4]. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.[5]

Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

Akhir Hidup
Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC[6] Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

Sumber: Wikipedia

Referensi:
1. Artikel tentang Chairil Anwar, awalnya dimuat di Suara Merdeka
2. http://www.seasite.niu.edu/flin/literature/chairil-anwar_lat15.html
3. http://www.kirjasto.sci.fi/chairil.htm
4. http://www.seasite.niu.edu/flin/literature/chairil-anwar_lat15.html
5. http://alwishahab.wordpress.com/2007/08/03/bertemu-pujaan-chairil-anwar/
6. “Chairil Anwar Legenda Sastra yang Disalahpahami”, Sajak.Blogspot, diakses Juni 2007

Referensi lain:
* Biodata Sastrawan Indonesia 1900-1949
* Aku Ingin Hidup 1000 Tahun Lagi

Iklan

Aksi

Information

11 responses

12 05 2008
djunaedird

Chairil Anwar adalah anak yang masa kecilnya kurang bahagia.
Seandainya ia bahagia, dalam asuhan orang tua yang harmonis, apakah ia bisa menciptakan sajak-sajak yang fenomenal?

18 01 2011
Dheny

sajak – sajak yg diciptakan chairil anwar bedasarkan insting dari hati nurani bukan karena Kehidupannya yang dinilai tidak teralu bahagia….
Anda salah jika anda menilai chairil bisa mnggabungkan kata2 mnjadi kalimat yg indah itu hanya karena ketidak ahagiaan beliau atas suasana kehisupannya yg dsebabkan perpisahan kedua org tuanya…

12 05 2008
galigongli

Seandainya ia bahagia, dalam asuhan orang tua yang harmonis, apakah ia bisa menciptakan sajak-sajak yang fenomenal?

Ehmm, ga tau juga yach…
tapi mungkin itulah yang membuatnya begitu akrab dengan analogi kata
yang menghasilkan karya-karya yang fenomenal

15 07 2008
Salam Cinta teruntuk Anakku « not just a story but creat my own hiStory

[…] Sani)klik, klik puisi asrul sani, puisi, puisi, […]

13 11 2008
Rudi Juan Carlos

Puisi AKU, adalah puisi yang pertama dalam hidupku yang bisa kulafalkan dalam kepala.
entahlah..
Mungkin setiap kta yang tertulis telah tersirat makna yang dalam tentang HIDUP yang penuk dengan dinamika..
lagi-lagi entah kenapa, kini..
kembali tiap kata dalam puisi ini kembali hidup dalam hidupku untuk Berteriak lantang….
AKU mau HIDUP…(sebelum kematian itu datang)
1000 Tahun lagi ( sebatas yang Tuhan Mau)

love u khairil Anwar (anak medan)
rudi juan carlos (anak medan)

3 03 2009
arie

thnks….

24 03 2009
Adul...gumpas

Sangat bagus sekalipuisi chairil anwar.kata2 nya mengandung arti dan berisi bgt.

9 06 2009
Reo

ni pertama kali we baca puisi karya khairil anwar

sip dah !!

14 09 2010
Zul fahmi Naibaho

Khairil Anwar dgn karya – karyanya…
entah kenapa selalu membiusku…
Lena pada indahnya komposisi kata yang…

6 08 2011
Abbie

sayang tidak banya remaja yg bisa enghidupkan sastra kembali,padahal dengan refrensi sastra yg luar biasa, sebenarnya kita menghidupkan kembali cahaya chairil dan tokoh sastra lainnya, sanggupkah kita???

6 10 2011
LeLy

Awalnya…
Dari hasil karya Om Chairil yang begitu fenomenal yang telah menghipnotis seluruh INDONESIA dengan karya-karyanya yang begitu menakjubkan, aku tidak menduga biografi nya begitu menyedihkan dan mengharukan.
hm…
thanks omm ^_^
we all love yuo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: