HAI, KAMU !

30 04 2008

Oleh :
W.S. Rendra

Luka-luka di dalam lembaga,
intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,
noda di dalam pergaulan antar manusia,
duduk di dalam kemacetan angan-angan.
Aku berontak dengan memandang cakrawala.

Jari-jari waktu menggamitku.
Aku menyimak kepada arus kali.
Lagu margasatwa agak mereda.
Indahnya ketenangan turun ke hatiku.
Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.

Jakarta, 29 Pebruari 1978 I Potret Pembangunan dalam Puisi





AKU

30 04 2008

Oleh :
Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu-sedan itu
Aku ini binatang jalan
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Pembangoenan,
No. 1, Th. I
10 Desember 1945





Cintaku: Hanya berani mengintip saja

30 04 2008

Kini,
Dapat kurasakan secercah kehangatan
Dalam roh angin dan aku memerlukannya
Dimana hajat sampai ke alam fikiran
Berefleksi pada kehidupan maya

Cintaku dibalik tirai kata…
Mampukah engkau bicarakan semua asaku padanya
Ataukah engkau ‘kan mati tak bermakna nan kaku
Pertanyaan itu terus dan terus menghujam
Bak bertekad bongkarkan kebungkamanku
Mendobrak tirai tirani
Tuk tempuhi ujung terang
Dengan menguak keingintahuan yang lebih tentang dirimu

Feb 1 th ’02 I Kumpulan sajak Aku: Sang Penyair





Sunyi: Tema pagi ini

30 04 2008

Dikeremangan mentari pagi yang bertemakan sunyi,
Terdengar olehku syahdunya kata dari seorang yang namanya tak pernah ada dalam file memori ku. Kata yang terucap dari singgasana lara yang mulai dibangun dalam perhatian dan senyum.
Sejenak ku terpaku pada cahaya bulan yang menyapaku dengan panggilan lirih dan sebuah senyuman yang senantiasa mengganggu tidurku.

Begitu tulus,begitu indah hingga aku pun tertegun dan rasa itu, rasa yang tak pernah ku rasa menguap serta membisikan satu kata untuknya.Waktu berlalu tanpa jeda.
Tapi mengapa hati ini tak mau terluka malah memintaku untuk menyapa sebuah hati dengan kata yang orang bilang itu ‘cinta’

Agustus 01/januari 02 I Kumpulan sajak Aku: Sang Penyair





Aku di Kota Mati

5 04 2008

Negara Gagal?

Apa peduliku dengan negara gagal?
Tentu aku harus peduli dengan negara ini, karena aku lahir dan besar di sini…
Negeri ini bernama Indonesia Raya, Kaya akan segala macam bentuk sumberdaya alam namun begitu miskinnya kesejahteraan para penghuninya.
Ketika aku lahir, aku telah berhutang…
Ketika aku menangis, aku tak dihiraukan…
Ketika aku lapar, aku di hardik…
Ketika aku mengemis, aku di ganyang…
Ketika aku membuka lapak usaha, aku di gusur..

Aku di kota mati…
Enyahnya kredibilitas para elite penguasa di mata rakjat,
reformasi yang dibirokrasi…
Kebijakan yang termakan foreign policy..
“perang dingin” yang berkedok kebersatuan di antara panutan negeri
hingga matinya Jiwa-jiwa pemimpin negeri ini

Lantas, apa jadinya kota ini setelah sepeninggalan aku nanti…

Mengutip dari Mbak Meuthia (kompas/30408)

kegagalan negara bukanlah semata kegagalan pemerintah, melainkan semua aktor yang terlibat dalam distorsi kebijakan publik yang dibutuhkan untuk menyejahterakan masyarakat. Merekalah yang memberikan kemiskinan kepada rakyat dan mengembangkan ketidakadaban.