Aku; Istana Kecil

22 01 2008
 “Istana kecil” Begitu kita menyebutnya !   
          Tempat dimana waktu mengajakku bertandang diberanda terasmu untuk pertama kali. Ku rangkul semua jiwa lara yang masih tersisa. Ku ajak mereka beranjak pergi turut serta kekasihku, sepi. Langkah kian jauh dari kenangan yang tak terurai, meninggalkan mimpi-mimpi akan -mu,-nya, dan mereka pada istana kecilku. Letih datang menyapa tak ku pedulikan. Bungkam menyergap tak ku dekap. Jiwa ini luruh satu pada satu keyakinan…Akankah ku mampu bertahan dan bersabar akan cinta-ku ?
     Desember di  tengah bulan di tahun ke 3 aku di negeri hujan. Selang dua hari, aku pulang ke rumah ku. Rasanya telah lama aku meninggalkannya dengan segala kenangan yang ada. Sekilas rautnya masih tetap sama seperti sebelumnya, masih didiami jiwa-jiwa mati yang tak ku tahu namanya. Tapi aku tak sendirian, aku membawa serta kekasih setia ku, sepi. Sofa tua masih saja berada dipojokan jendela besi, sedikit lusuh dan berdebu. Namun ada sesuatu yang menarik perhatianku, sebuah buku. Ya, sebuah buku tua yang penuh coretan para hati penghuninya, dulu. Tiga perioda telah ia lalui dan tetap setia pada tinta pena yang tergores pada lembar putihnya walau badan tak sepenuhnya sempurna.”Aku ingin membacanya…”

     Perlahan kubuka lembar demi lembar yang bercerita tentang aku, dia, mereka, dan kamu pastinya. Goresan-goresan pena yang tertanam pada tubuh tua itu seakan menyimpulkan suatu kisah makna kehidupan yang tersurat pada tawa, canda, tangis dan sedih para penghuni yang telah lama pergi, sebagian. Itulah semangat dan jiwa yang ia punyai untuk tetap bertahan dan senantiasa bersabar.

     Pada lembar ke sekian, aku temukan ada coretan tangan yang tak asing lagi bagiku yang menjadi permulaan dari periode ketiga kehidupan. Ia berkeluh-kesah dengan kedukaan yang tak terucapkan oleh lisan karna ia terlalu pedih diucapkan. Dia-lah Boendar yang kukenal sebagai ibu yang dahulu pernah mengasuh kami tanpa banyak berkata, hanya cinta dan perhatian yang sangat.

“Aku ingin menulisnya…”

     Kuberanikan jari ini kembali menjalani ritual-nya layaknya dulu, entah karna apa?

     Mungkin apa yang pernah Boendar katakan dulu ada benarnya, bahwa hidup adalah pilihan dengan segala pilihan yang ada. Hanya saja saat itu, otak ku belum mampu menjelaskan dan menemukan cara untuk memahaminya. Ku ambil pena bertinta hitam di dekatku, ku tuliskan apa yang seharusnya aku lakukan sejak dulu…

     Hanya lirih yang mampu tertuang di atas kertas yang menanggung semua beban di hati yang kian banyak dan lagi-lagi aku kagum padamu, Boendar, kau-lah orang yang penuh kesabaran dan pengharapan atas realita yang pernah ku temui. Realita bahwa satu per satu penghuni rumah ini pergi tanpa pesan sedikit pun, termasuk pula aku. Tapi aku rindu nuansa seperti dulu, tawa, canda, nasehat, sedih, damai nan hangat, inilah hidup.

“Bolehkah aku sekedar mampir disini, Boendar?”

     Sekedar mengulas kenangan silam tentang penghuni rumah ini satu per satu.  Foto usang kita masih melekat pada dinding tua yang rapuh oleh waktu, penuh debu karna tak terawat; aku rindu kalian…

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: