Jelajah jejak puisiku tahun 1997-2000

14 01 2008

Kata ini bernama puisi, syair, sajak, bualan, rayuan entah apalah namanya aku tak mau tahu. Satu-satunya yang ku tahu, tangan ini mulai gemar keluyuran bersama pena. Pergi awal petang dan pulang hingga larut malam. Entah apa yang ia lakukan, tangan kiriku tak pernah mengetahuinya. Aku hanya tahu ia pergi ke suatu tempat bernama kanvas putih kemudian menunggu angin membawa mereka ke awang-awang. Lantas sesampainya di sebuah negeri impian mereka pun menari menggerai langkah-langkah yang selanjutnya terbaca sebagai rangkaian kata-kata yang terpilih.

“Merenungkan mu kini, menggugah haruku, berbagai kenangan berganti masa yang telah lalu
Sebenarnya aku ingin menggali hasrat untuk kembali…
“Melukiskan mu lagi didalam benak ku, perlahan terbayang pasti garis wajahmu
Kehangatan cinta kasih dapat ku baca jelas di situ

Adakah waktu mendewasakan kita
Ku harap masih ada hati bicara
Mungkin kah saja terurai satu per satu pertikaian yang dulu
Bagai pinta ku…

“Semoga”

Lihat lah ku disini
Memendam rindu setiap ku berseru yang ku sebut hanya nama mu…
Sebenarnya ku ingin menggali hasrat untuk kembali
Agar kau mengerti

“semoga”

Sebuah lagu yang kini masih ku simpan rapi di memori komputerku. Lantunan lagu yang ditulis begitu indah begitu juga ketika disenandungkan oleh Kla Project dalam albumnya Klakustik. Perlahan alunan melodi yang merdu menginspirasi ku, dan memberiku keberanian untuk memulai petualangan di atas pena.

Setiap hari, tak lelah rasanya tangan ini melangkah ke tiap bait puisi yang masih saja belum selesai ku tulis. Awal yang berat akhirnya terselesaikan walau terkadang masih suka menyitir karya-karya Katon dan Khalil. Sejak saat itu kegemaranku membaca karya-karya sastra membumbung tinggi, meluap dan sukar tuk terbentung. Apalagi saat itu hati memang mendukungku. Tak henti-hentinya ia membuat bersemangat menulis berlembar-lembar hingga aku kehabisan kata-kata. Bagus tidak tulisan penaku tak pernah ku hiraukan, aku merasa apa yang bisa tertulis itulah yang ada. Seperti kata seorang penyair, yang pernah ku ingat sajaknya :

“Sajak adalah caraku merangkul dunia…Sajak adalah caraku merajut cinta”
“Untuk menikmati jadi sang pecinta…Sajak adalah tangga naiknya cerita cinta”
“Cerita cinta yang bukan kasih sayang antar manusia,tapi sepucuk surat dari Tuhan yang Agung”

Masa itu sungguh memberiku sebuah permulaan untuk menyukai dunia yang dulunya asing bagiku. Bahkan aku tak pernah mau untuk bergelut di dalamnya. Perlahan aku sadar bahwa ada bahasa yang tak seperti bahasaku padamu, ia adalah kata yang hidup karena emosi dan nalar. Kini karya-karyaku tak lagi padaku, ku percayakan pada seorang sahabat yang begitu menyukai bahasaku yang lain, semoga ia membacaku saat ini.

Hari dan malam ini
Ku ‘kan menutup seluruh jejak kata
Dengan serumpun butir–butir untaian bijak
Yang mencoba tuk buatmu mengerti
“Apa yang bisa terbaca ?“

Dengan kamu membaca dan membuka makna dari tabir setiap kata
Maka kata terdahulu menjadi peganganmu ke kata berikutnya….

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: