Aku; Hantu Berburu

8 01 2008

Aku masih bocah saat itu, ketika ibu ku melarang untuk pergi bermain di luar selepas pulang sekolah; seperti biasa. Aura panas berbaur dinginnya gerimis di luar sana tak ku hiraukan. Aku memang menyenangi hujan seperti aku menyenangi hentakan kaki yang mengajak ku pergi kemana pun ia mau. Aku tuli saat itu. Seulas senyum ku kulum sambil mengayun langkah perlahan membuka pintu seraya bergumam ” Ibu, aku pergi bermain ya!”

Iringan kelompok cirrus tak lagi meramaikan atap rumahku. Mereka menghilang. Padahal baru saja tadi mereka tersenyum pada ku saat ku kayuh sepeda BMX pemberian Bapak ku. Aku sangat suka bersepeda. Kedua orang tuaku amat bersahaja; menurutku. Hidup sederhana di rumah dinas; di belantara rimba. Kedua orang tua ku pengabdi negara. Meskipun begitu, pastilah amat sedikit pengabdi negara yang mau tinggal di pelosok desa sekarang ini. Ah…ngawur, apa yang aku pikirkan. Saatnya aku pergi bermain sekarang; bersama hujan.

Hujan Panas. Iya begitulah kira-kira kami, orang kampoeng, menyebutnya. Gerimis yang di sertai hawa panas. Orang-orang kampoeng paling pantang keluar rumah saat itu; “hantu berburu” katanya. Aku tak peduli. Satu-satunya yang aku pikirkan bagaimana aku bisa sampai dirumah chifung, teman china ku, bermain petak umpet, dan berenang di sungai Kapuas yang keruh.

Belum beberapa langkah dari pintu. Suara parau Ibu memanggilku untuk masuk kembali ke rumah. Maklumlah, seperti yang sudah ku katakan tentang mitos ‘hantu berburu’ jika cuaca seperti ini; hujan panas. Dasar aku bandel, lagi-lagi aku menjadi tuli. Hentakan kaki semakin bergegas, lari dari pintu-lari dari kenyataan bahwa mitos selalu tak ada penjelasan yang rasional. Hingga jawaban itu aku dapat…

Di sana, tepat di depanku, sebuah kantor dinas kosong. Ada bayangan samar hilir mudik tak jelas. Mata yang awas masih bisa menangkap jejak-jejak angin yang terjebak debu. Jantung berdegub tak karuan. Ada apa ku pikir. Hentakan kaki berhenti, menghadap jendela. Mata ini rehat sejenak, tak berkedip, ketika sosok tembus pandang itu mulai menetap di kursi kayu; di teras kantor dinas. Aneh, telingaku tak lagi tuli…ada suara perempuan memanggil-manggil nama ku.

“Kemarilah…kemarilah…”

Suara itu, menembus ulu hati. Seolah memaksa otak ku untuk menghentakkan kembali langkah ku; menujunya. Keringat dingin tak lagi basah tapi kering. Seulas senyum menjadi durja. Jemari mungil mulai perkasa. Satu-satu yang terlintas adalah memberontak. Aku bukan lah orang yang mudah dirayu bukan pula yang gampang ditipu. Aku….

“Tidaakkkk….pergi kau, Hantu…!”

Aku terkulai lemas, dengan batu kerikil di tangan. Baju basah, degub jantung tak stabil dan beberapa kaca jendela pecah.

Senyum sinis itu…aku menang.

Iklan

Aksi

Information

2 responses

22 01 2008
colin

saya sudah membaca keratan cerita yang kamu paparkan…saya akui,saya amat berminat dalam perkara seperti ini..kalau bisa,,kamu ceritakan lagi pengalaman kamu kepada saya..dengan gambaran makhluk tersebut.

with a smile, 🙂
colin

22 01 2008
galigongli

Thank for your comment…
by the way…kok aku yang jadi bingung ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: