Bengawan Solo; kini meradang

5 01 2008

Bengawan solo; riwayatmu kini
sedari dulu jadi perhatian insani
musim kemarau tak seberapa airmu
dimusim hujan air meluap sampai jauhmata air mu dari solo
terkurung gunung seribu
air mengalir sampai jauh
akhirnya ke laut

itu perahu; riwayat mu dulu
kaum pedagang slalu naik itu perahu
……..(lyric by gesang)

” Kerugian Banjir Bengawan Solo Capai Rp. 25 Miliar”

Begitu kira-kira headline pada sebuah surat kabar nasional, di awal tahun 2008. Tentunya tak ada seorang pun yang mau mengalami kerugian sebesar itu. Tapi lagi-lagi sikap dan perilaku kita secara kontradiksi menginginkan hal itu terjadi. Seolah tak pernah belajar dari kejadian demi kejadian yang melanda negeri ini, kita masih terlena untuk mencari-cari kesalahan atas semua itu.

Bengawan soloKini, Bengawan solo meradang; amarahnya melanda 26 desa diKecamatan Babat, Laren, Karangbinangun, Karanggeneng, dan Glagah, Lamongan, Jatim. Ribuan rumah terendam banjir bahkan hanya tersisa bagian atapnya saja dan ribuan jiwa mengungsi ke lokasi-lokasi yang aman. Beranjak usia 4 hari bulan Januari di tahun 2008, berkah yang diturunkan menjelma bencana luapan amarah Bengawan Solo merebak ke 20 Kabupaten yang tersebar di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dan lagi-lagi yang disalahkan atas peristiwa itu adalah Sungai Bengawan Solo, karena dianggap tidak lagi mampu menahan aliran air dari intensitas hujan yang cukup tinggi dan perubahan cuaca yang ekstrim.

Lucu; sangat menggelikan!

Tentu semuanya itu, bukan semata-mata sebuah peristiwa yang kebetulan tapi ada proses di balik layar yang mesti kita renungkan bersama. Fakta membuktikan, bahwa kawasan hulu Sungai Bengawan Solo, hutan yang tersisa hanya tinggal 7% (33.000 ha) dari luasan daratannya sisanya adalah kawasan pertanian dan pemukiman. Hal inilah yang menyebabkan tingkat run off air permukaan tanah meningkat, dan lahan resapan air berkurang. Proses ini menyebabkan pendangkalan sungai yang telah mencapai 80% dari batas ambang normal akibat tingginya erosi pada hulu hingga hilir sungai. Kondisi ini diperparah dengan kedalaman waduk Gajah Mungkur yang menjadi penyangga Bengawan Solo tinggal 10 m, di tambah lagi sampah yang kian menumpuk memperburuk kondisi waduk.

Ini hanya salah satu fakta, bahwa negeri ini tak akan bisa terbebas dari bencana alam jika kita tidak pernah belajar dari pengalaman dan belajar untuk mengakui bahwa alam hanya mencerminkan apa yang telah kita perbuat…

Lantas masihkah kita mengkambing hitamkan alam?
Tentu itu adalah sebuah argumen yang menggelikan…

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: