Aku, Sepi yang menemani

28 12 2007

Aku terlahir sebagai yang didahulukan. Dibesarkan oleh kemurungan, kesendirian, dan kesunyian. Aku ditempa oleh kerasnya hidup. Diajari bahasa hutan dan kicauan burung. Merangkak bersama angin dan tidur di pembaringan malam. Ayahku adalah langit yang menaungiku tanpa banyak berkata. Ibuku adalah bumi yang mengajariku banyak hal tentang kehidupan. Saudaraku adalah sisi lain dari hidupku yang penuh tawa dan canda. Dan aku mewarisi sifat keduanya.
Dalam sebuah penciptaan, aku terpilih sebagai seorang pemenang yang memenangkan hati-Nya. Melebur lalu luruh padu pada rahim bumi. Tangan-tangan Gaib membuat banyak keajaiban yang menuntunku sebagai lelaki. Pelajaran pertama tentang hidup kudapat dari sentuhan karya-Nya. Tumbuh dan terus tumbuh hingga saatnya tiba untuk ku berdiri sendiri. Keberadaan ku ditandai dengan tangisanku, disebuah gubuk sederhana di rimbunan pepohonan.

« S’lamat pagi, Fajar !

Baca entri selengkapnya »

Iklan