Psycho..

27 07 2008

Oh my God, please…jangan kau sakiti aku!! Aku mohon dengan kemurahan hatimu yang tersisa, biarkan aku bebas dan terbang menjejali mimpi-mimpi yang ku rengkuh di antara perut dan leherku. Ku mohon dengan sangat, jangan kau perlakukan aku seperti ini. Cukup…cukup!!! Sudah ku katakan berkali-kali dengan mu sambil mengemis selirik perhatianmu padaku. Tapi apa yang kau beri? Kau jagal aku dengan sadis tanpa belas kasihan sedikitpun, jangan kan merasa bersalah, kau justru seolah menikmati satu per satu bagian tubuh ini kau babat dengan brutalnya. Baca entri selengkapnya »





Akut..

27 06 2008

Bingung, mungkin itu kata yang paling tepat saat ini yang mencitrakan kondisi ku sekarang…

Bukan bingung soal skripsi yang ga kelar-kelar atau pun uang spp semester depan belum ada. tapi aku bingung setelah amanah di kampus rakjat ini berakhir, terus aku harus melangkah kemana lagi? apalagi jika harus bermental idealis untuk berprofesi di bidangnya, mungkin 1001 batu loncatan dahulu baru bisa menapaki jalan yang diingini dengan nyaman. Aku telah jatuh cinta dengan aroma basah embun pagi yang menyeka kantuk ku di sejuknya udara segar di alam liar. Aku juga tak bisa berpaling dari suara riuh rendahnya aluna gita burung-burung di balik semak dan dedaunan. Lantas, kemana aku meski mencari mereka yang kini ku tak tahu rimbanya. Itu ku rasakan 20 tahun silam, dan kini cinta itu masih ku benamkan dalam-dalam di palung hati, bahwa suatu saat aku akan meminangnya menjadi bagian dari hidupku..

Aku bingung… Baca entri selengkapnya »





Dia: Diam

22 06 2008

diam

Dia yang terdiam, hanya aku yang tahu kapan harus berakhir. Entah apa yang ingin ku sangkal antara “cinta” dan persahabatan. Dia yang terdiam, kemarin sempat tersenyum pada malam. Sebuah senyum yang penuh ketulusan nan lembut; hangat selayak senja yang bersahaja di kala petang.

Dia yang terdiam, membuat ku semakin paham akan dirinya. Sebuah hati yang terbentuk sangat indah oleh setiap penjelmaan kebaikan hidup. Dia yang terdiam; dalamnya tak terselam yang membuatku semakin tenggelam di dasar yang terdalam. Baca entri selengkapnya »





Ijinkan Aku Mengenalmu

22 06 2008

Dia: bagian rusuk kiriku yang patah: Tercipta dalam kelembutan namun begitu kokoh: Hadirmu melengkapi kehidupan ini: Meski terkadang hatimu yang lembut tercabik olehku: Namun slalu ada maaf dan senyum untuk ku; Lelaki

kupuAku mengenalmu layaknya rentang hidup sang kupu-kupu.Tak sampai sewindu hidupnya, ia tlah mati dengan membawa madu bersamanya. Aku ingin mengenalmu ibarat kumbang pada bunga, yang mengenalnya bukan pada yang tampak. Tapi apa yang ada didalamnya. Aku bermimpi lebih jauh mengenalmu. Sejauh bintang-bintang yang bertabur pada malam,yang terlihat dekat karna kilaunya. Namun kusadar ia begitu jauh tuk terjangkau.

Kini aku terlanjur sulit mengenalmu. Serumit aksara para ilmuwan tuk di pahami oleh nalar yang tak mampu memecahkan sandinya. Dan aku sadar bahwa aku cukup mengenalmu dari setiap analisis semuku akan setiap kosakata yang senantiasa bersembunyi di balik senyum dan sukamu. Sejak saat itu aku… Baca entri selengkapnya »





17:48

19 06 2008

17.48 sore hari itu…

“aku berhenti mengenalmu dengan caraku; perempuan. Kunci kata telah kubuang di depan  mu entah kemana. pertanda ego ku tidurkan…

Satu hal yang ku pahami bahwa selama ini aku hanya mengenalmu dengan caraku yang egoistik tanpa jiwa.Ku belajar darimu bagaimana engkau mengenalku. Satu yang ku harap aku bisa terus mengenalmu hingga waktu tak cukup untuk membuatku berhenti mengenalmu…”





Per[t]empu[r]an: takdir

19 06 2008

Perempuan, nalar kelakianku terkadang tak mampu menafsirkan seperti apa hatimu. Aku bingung bermain lakon bersama mu. Kadang aku berpikir, bagaimana seharusnya aku memandangmu. Engkau hadir sebagai sebagian jiwa yang hilang. Datang dari kesendirian yang menawarkan berjuta ketenangan dan ketentraman hidup. Hatimu begitu lembut dan lebih banyak bergelut dengan yang namanya rasa dibanding nalar.

Engkau tercipta dengan ‘istimewa’ dan memancarkan keindahan serapuh kelopak bunga. Itu yang ku ketahui dari indahnya pelangi sore itu di kaki bukit saat pertama ku mengenalmu. Lembut, kesan pertama yang ku tangkap; tak sepertiku.

“Apakah kau mau jadi temanku?” Baca entri selengkapnya »





Sebuah Tanya

17 06 2008

Akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku

(kabut tipis pun turun pelan-pelan
di lembah kasih, lembah mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin) Baca entri selengkapnya »