Sudah lebih dari satu pekan ini, sejak keputusan kenaikan harga BBM diumumkan. Rakjat berang, kesal, kecewa, stess, depresi, dan 1001 cara untuk mengekspresikan luapan emosi yang telah terlalu sesak untuk ditahan-tahan. Tentu ada yang pro dan ada pula yang kontra, namun lebih banyak yang kontra sepertinya. Media begitu getir dan saling berlomba-lomba menyiarkan suara-suara serak para elemen masyarakat kecil, golongan yang terbuang di negerinya sendiri. Jujur aku bosan dengan liputan yang setiap hari sama. Mau di kata apalagi, tuntutan pembatalan kebijakan tersebut ibarat kerikil yang jatuh ke kolam, riaknya tidak akan besar dan bertahan lama. Pemerintah dalam hal ini pandai meredam situasi dengan kompensasi-kompensasi yang diberikan.
Namun, justru yang membuat ku semakin sedih dan kesal, ditengah derita yang dialami rakjat kecil, hasil pemerikasaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap harta kekayaan beberapa pejabat negara membuktikan bahwa kekayaan tersebut secara absolut bertambah milyaran rupiah dari hasil pemeriksaan sebelumnya [1]. Bahkan Bapak Kesejahteraan bangsa ini di daulatkan sebagai orang terkaya di Indonesia dan se-antero asia tenggara dengan harta kekayaan mencapai US$ 9,2 milyar [2]. Aneh negeri ini, negeri ku sendiri dan negeri kita semua. Ada yang kaya, namun banyak sekali yang terlunta. Orang-orang kaya yang buat kebijakan, orang miskin yang terinjak-injak haknya untuk hidup di negerinya sendiri. Sedih, hanya itu yang bisa aku rasakan tanpa bisa berbuat banyak. Karena aku hanyalah anak kecil yang dipundakku sudah ditaruh beban hutang Ibuku akibat ulah anak-anaknya yang “Pembohong, Penjudi, Pemabok, Pemerkosa, dan Pecundang” di tanah kelahirannya sendiri.
Sungguh jika benar bahwasanya para “Pelayan” masyarakat itu lebih kaya dari tuannya sendiri tidaklah mengapa, andaikata seluruh “Pelayan” mau menyisihkan 2,5% saja dari harta mereka untuk Ibunya yang sudah hampir telanjang karena baju yang dikenakannya telah robek di sana-sini dan “Tuan” yang mereka layani tak lagi sanggup berpikir cerdas karena perut kelaparan dan sakit-sakitan, maka mereka adalah orang-orang yang dimuliakan oleh Tuhan semesta alam. Namun, ini hanya perandaian saja…
Semoga mereka masih merasa punya Tuhan dan masih sadar akan kewajiban dan hak mereka terhadap harta kekayaan yang mereka miliki…
Sumbang saran