
Dia yang terdiam, hanya aku yang tahu kapan harus berakhir. Entah apa yang ingin ku sangkal antara “cinta” dan persahabatan. Dia yang terdiam, kemarin sempat tersenyum pada malam. Sebuah senyum yang penuh ketulusan nan lembut; hangat selayak senja yang bersahaja di kala petang.
Dia yang terdiam, membuat ku semakin paham akan dirinya. Sebuah hati yang terbentuk sangat indah oleh setiap penjelmaan kebaikan hidup. Dia yang terdiam; dalamnya tak terselam yang membuatku semakin tenggelam di dasar yang terdalam.
Dia yang terdiam, boleh ku bertanya apa yang kau lihat dari mata ini, apa yang kau baca dari guratan ini. Aku hanya… hanya…sudahlah itu derita ku.
Dia yang terdiam, ku berangan kian jauh lampaui batasku yang tanpa sadar akan kenistaan diri. Memang sungguh tak pantas sang hitam bercengkram pada putih. Dia yang masih terdiam. Harap baik yang sempat terlintas, kau memperoleh yang terbaik dari hidupmu. Menuntunmu tuk gapai kebahagian yang ajaib.
“Semoga…Hanya itu doa ku!”







Sumbang saran