17:48

19 06 2008

17.48 sore hari itu…

“aku berhenti mengenalmu dengan caraku; perempuan. Kunci kata telah kubuang di depan  mu entah kemana. pertanda ego ku tidurkan…

Satu hal yang ku pahami bahwa selama ini aku hanya mengenalmu dengan caraku yang egoistik tanpa jiwa.Ku belajar darimu bagaimana engkau mengenalku. Satu yang ku harap aku bisa terus mengenalmu hingga waktu tak cukup untuk membuatku berhenti mengenalmu…”





Per[t]empu[r]an: takdir

19 06 2008

Perempuan, nalar kelakianku terkadang tak mampu menafsirkan seperti apa hatimu. Aku bingung bermain lakon bersama mu. Kadang aku berpikir, bagaimana seharusnya aku memandangmu. Engkau hadir sebagai sebagian jiwa yang hilang. Datang dari kesendirian yang menawarkan berjuta ketenangan dan ketentraman hidup. Hatimu begitu lembut dan lebih banyak bergelut dengan yang namanya rasa dibanding nalar.

Engkau tercipta dengan ‘istimewa’ dan memancarkan keindahan serapuh kelopak bunga. Itu yang ku ketahui dari indahnya pelangi sore itu di kaki bukit saat pertama ku mengenalmu. Lembut, kesan pertama yang ku tangkap; tak sepertiku.

“Apakah kau mau jadi temanku?” Baca entri selengkapnya »